Pelajaran untuk Istri
0Marilah kita mengambil pelajaran dari sebuah hadits yang memberikan petunjuk tentang apa yang sebaiknya dilakukan seorang ayah, istri, dan suami ketika terjadi konflik antara suami dan istri
Copy paste kode di bawah ini:
Lihat info selengkapnya di sini
Marilah kita mengambil pelajaran dari sebuah hadits yang memberikan petunjuk tentang apa yang sebaiknya dilakukan seorang ayah, istri, dan suami ketika terjadi konflik antara suami dan istri
Rasa cemburu merupakan salah satu pagar perlindungan bagi nilai-nilai keutamaan. Dengan melindunginya berarti kita akan melindungi masyarakat dari perzinahan dan penyimpangan-penyimpangan lainnya. Namun sangat disayangkan, para pendukung Permisifisme (aliran serba boleh) berusaha melemahkan atau bahkan menghapus sama sekali rasa cemburu tersebut dari dalam diri kaum muslimin
Barangkali usapan tangan yang dilakukan oleh seorang istri kepada suaminya -dan sebelumnya dia sudah meniup tangan tersebut dengan bacaan ayat-ayat Al-Qur’an- akan menimbulkan pengaruh yang baik di dalam diri suaminya dan menarik rasa cinta yang diharapkan tumbuh di antara sepasang suami istri
Di sini Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam menjadikan kebaikan kepada keluarga -yakni istri- sebagai standar kebaikan seseorang. Hal itu diperjelas di dalam hadits “Sebaik-baik kamu adalah orang yang paling baik kepada istrinya.” (Hasan Shahih)
Islam kemudian datang mengangkat derajat wanita dan menempatkannya di sisi lelaki secara proporsional. Bahkan pada kondisi tertentu wanita mendapat kemuliaan yang lebih daripada pria. Seperti pemulian anak terhadap seorang Ibu lebih tinggi tiga derajat daripada Bapak
Sebahagian suami terkadang lupa akan pentingnya dialog pendek yang romantis dengan Istrinya. Mereka berasumsi bahwa dialog dengan istri itu harus panjang, intens, dan memerlukan persiapan forum yang kondusif, suasana yang mendukung, dan momentum yang tepat
Itu adalah seruan agar setiap istri mau bekerja keras untuk membuat rumah tangganya jauh dari apa yang melelahkan suaminya; melelahkan tubuhnya dan melelahkan jiwanya.
Fitnah itu bisa muncul dan menimbulkan semacam korsleting di hati seorang lelaki meski hanya melalui pandangan, padahal si wanita tak berbuat apa-apa bahkan mungkin tidak menyadarinya
Ini adalah pelajaran berharga bagi setiap wanita agar selalu bersikap adil dan obyektif kepada wanita lain, kendati di antara mereka berdua terjadi perseteruan yang tajam
Imam Bukhari mencatat hadits-Hadits ini setelah menyebut firman Allah Subhanahu wa Ta’ala,
“Sesungguhnya di antara istri-istrimu dan anak-anakmu ada yang menjadi musuh bagimu.” (QS. At Taghabun:14)
Hal ini mengisyaratkan bahwa kesialan itu secara khusus muncul dari istri yang menjadi biang permusuhan dan fitnah.