Kesopanan Fatimah, Keadilan Aisyah, dan Ketaqwaan Zainab
1Ini adalah pelajaran berharga bagi setiap wanita agar selalu bersikap adil dan obyektif kepada wanita lain, kendati di antara mereka berdua terjadi perseteruan yang tajam
Copy paste kode di bawah ini:
Lihat info selengkapnya di sini
Ini adalah pelajaran berharga bagi setiap wanita agar selalu bersikap adil dan obyektif kepada wanita lain, kendati di antara mereka berdua terjadi perseteruan yang tajam
Imam Bukhari mencatat hadits-Hadits ini setelah menyebut firman Allah Subhanahu wa Ta’ala,
“Sesungguhnya di antara istri-istrimu dan anak-anakmu ada yang menjadi musuh bagimu.” (QS. At Taghabun:14)
Hal ini mengisyaratkan bahwa kesialan itu secara khusus muncul dari istri yang menjadi biang permusuhan dan fitnah.
Alangkah baiknya jikalau para suami mau meniru akhlak Nabi shallallahu ‘alaihi wa salam ini sewaktu berbicara dengan istri-istri mereka. Dari pada berbicara dengan bahasa langsung kepada istri, seperti mengatakan, “Hari ini si Fulan datang ke kantorku” atau “Saya mendapatkan bonus sekian” alangkah baiknya jika suami berusaha membangkitkan rasa penasaran istrinya, “Kamu tahu siapa yang datang ke kantorku hari ini?” atau “Coba tebak, berapa bonus yang aku terima hari ini?” dan seterusnya
Inilah Islam yang oleh banyak kalangan diupayakan untuk ditampilkan dengan wajah keras, teroris, dan berlumuran darah. Padahal, Islam sangat memperhatikan kepentingan wanita dan melindungi hidupnya, apa pun keyakinannya
Dari Abu Hurairah radhiallahu anhu Nabi shalallahu ‘alaihi wa sallam, beliau bersabda, “Wahai kaum wanita muslimat, jangan sekali-kali seorang tetangga meremehkan (pemberian) kepada tetangganya, walaupun sekedar telapak kaki kambing.” (HR. Bukhari) Penjelasan Hadits: Artinya janganlah sekali-kali meremehkan hadiah yang diberikan
Dari Abu Said Al-Khudri radhiyallahu ‘anhu, dia berkata, “Ada seorang wanita yang datang kepada Nabi shalallahu ‘alaihi wa sallam, lalu berkata, Ya Rasulullah, kaum lelaki sudah membawa pergi Haditsmu, maka sediakanlah satu hari dari dirimu di mana kami (kaum wanita)
Pada Hari Ahad (17/04/11) kemarin, Departemen Dakwah dan Pendidikan Wahdah Islamiyah Cabang Makassar menggelar kegiatan Kajian Buku. Bertempat di Masjid Wihdatul Ummah serta dihadiri sekitar 350 orang. Buku yang dikaji dalam kesempatan ini adalah buku yang ditulis oleh Syaikh Salim
Dari Khansa’ binti Khidam Al-Anshariyah diceritakan bahwa ayahnya pernah menikahkannya sewaktu dirinya menjanda, namun ia tidak menyukai hal itu. Kemudian ia mendatangi Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, lalu beliau menolak pernikahannya.” (HR. Bukhari)
Pada edisi lalu (tulisan 1 -5 ) telah kami sebutkan 22 bentuk kelalaian dalam mendidik anak. Berikut ini kembali kami sebutkan beberapa kelalaian yang lain, dan masih merupakan kelanjutan dari kelalaian sebelumnya. Diantara bentuk-bentuk kelalaian itu adalah: 23.Pelimpahan Urusan Pendidikan
Dari Aisyah radhiyallahu ‘anha, dia berkata, “Aku tidak pernah melihat seorang wanita yang aku lebih suka di dalam kulitnya dari pada Saudah binti Zam’ah, seorang wanita yang memiliki sifat galak.” Ketika dia (Saudah) sudah tua, dia memberikan jatah hari (giliran)