Aku mencintai rembulan dengan pendar putihnya, tapi ia tetaplah bulan yang punya sisi gelap, hingga aku membencinya, ah bukan, pada kelam hitamnya.
Dalam penghambaan hanya kepada Allah, selayaknya setiap jenak kehidupan selalu tersandarkan hanya karena-Nya. Pun dalam persoalan hati, lebih spesifik cinta dan benci; semua akan bernilai dan mulia jika ia hadir bersama ketulusan sebab, untuk, dan hanya karena-Nya.
Dengan keilmuan kita akan hak dan batil, salah dan benar –insya Allah- kebencian akan kesalahan dan kecintaan akan kebenaran dengan mudah kita hadirkan hanya karena Rabbul Izzati. Tapi kadang ada penzhaliman ketika kita menerapkannya pada satu sisi saja, ia tidak lagi menempati tempat yang semestinya, ia labil dalam kebingungan, posisinya absurd -tidak jelas-. Ibarat melihat bulan sabit kita kadang terpesona pada cahayanya saja dan mengabaikan sisi hitam yang menutupi purnamanya atau sebaliknya kita hanya sibuk menggerutui noda hitamnya dan lupa bahwa bahwa masih ada sisi putih yang lebih cantik untuk dipandang.
Makassar, 28 Jumadil Ula 1430 H
Silahkan kunjungi juga:










